KembaliBerita

Hyundai Nexo: Ketika Mobil Bukan Lagi Soal Mesin, Tapi Soal Arah Masa Depan

Willy Arsal
Rabu, 11 Februari 2026
Hyundai Nexo: Ketika Mobil Bukan Lagi Soal Mesin, Tapi Soal Arah Masa Depan

Nama Hyundai Nexo mungkin belum akrab di telinga konsumen Indonesia. Wajar. Mobil ini memang belum dijual resmi di Tanah Air, bahkan secara global pun ia tidak diposisikan sebagai produk mass market. Namun justru di situlah menariknya. Hyundai Nexo bukan sekadar SUV ramah lingkungan, melainkan sebuah pernyataan sikap: tentang bagaimana Hyundai melihat masa depan mobilitas, tentang pilihan teknologi di luar arus utama baterai, dan tentang keberanian mempertahankan jalur yang tidak populer namun strategis.

Dalam artikel ini, saya tidak akan mengajak Anda “membeli” Hyundai Nexo. Karena memang belum bisa. Yang ingin saya lakukan adalah mengajak pembaca—baik penggemar otomotif, pelaku industri, hingga pengambil kebijakan—untuk memahami mengapa mobil seperti Nexo ada, segmen apa yang ia incar, siapa lawannya, dan apa kelebihan riilnya dibanding solusi elektrifikasi lain.


Hyundai Nexo dalam Konteks Global: Bukan Produk, Tapi Platform Pemikiran

Hyundai Nexo adalah SUV menengah berbasis Fuel Cell Electric Vehicle (FCEV). Artinya, mobil ini digerakkan oleh motor listrik, tetapi sumber listriknya bukan baterai besar seperti BEV (Battery Electric Vehicle), melainkan hasil reaksi kimia antara hidrogen dan oksigen di dalam fuel cell stack.

Hasil akhirnya tetap sama: listrik. Namun prosesnya berbeda, dan implikasinya sangat besar.

Hyundai bukan pemain baru di teknologi ini. Sejak era Hyundai ix35 Fuel Cell, Hyundai konsisten mengembangkan FCEV saat banyak pabrikan lain memilih menunggu atau bahkan menghentikan riset hidrogen. Nexo adalah generasi lanjutan, dengan desain, teknologi, dan usability yang sudah jauh lebih matang.

Jika BEV lahir dari dunia consumer electronics, FCEV lahir dari dunia energi dan industri berat. Dan Hyundai bermain di kedua dunia itu sekaligus.


Desain dan Dimensi: SUV Modern yang Sengaja Dibuat “Normal”

Secara visual, Hyundai Nexo tidak terlihat eksperimental. Tidak futuristik berlebihan. Tidak aneh. Dan ini disengaja.

Hyundai ingin Nexo diterima sebagai mobil normal, bukan proyek sains berjalan. Siluet SUV menengahnya proporsional, mirip Tucson atau Santa Fe versi lebih clean. Grille tertutup khas kendaraan listrik berpadu dengan lampu LED sipit dan garis bodi aerodinamis.

Koefisien drag yang rendah bukan hanya demi efisiensi, tetapi juga untuk menegaskan bahwa Nexo adalah produk engineering serius, bukan sekadar showcase teknologi.

Pendekatan ini penting. Karena kendaraan dengan teknologi baru sering gagal bukan karena teknologinya, melainkan karena pengguna merasa “asing” saat memakainya.


Interior: Senyap, Bersih, dan Berorientasi Manusia

Masuk ke dalam kabin Hyundai Nexo, kesan pertama yang muncul adalah ketenangan. Senyap, minim getaran, dan bebas aroma khas mesin. Ini adalah keuntungan alami kendaraan listrik, namun pada Nexo efeknya terasa lebih “organik”.

Layout dashboard horizontal, layar digital besar, dan material ramah lingkungan menjadi ciri utama. Hyundai bahkan menggunakan bahan berbasis bio dan daur ulang—sekali lagi, bukan gimmick, tetapi bagian dari filosofi produk.

Nexo tidak mencoba menjadi mobil mewah flamboyan. Ia lebih memilih menjadi SUV teknologi tinggi yang rasional—nyaman, lapang, dan intuitif.


Cara Kerja FCEV: Singkat, Jelas, dan Tanpa Romantisasi

Banyak orang mengira mobil hidrogen itu “dibakar”. Tidak.

Di Hyundai Nexo, hidrogen disimpan dalam tangki bertekanan tinggi. Hidrogen tersebut bereaksi dengan oksigen dari udara di dalam fuel cell. Reaksi ini menghasilkan listrik, panas, dan satu-satunya emisi: air.

Listrik langsung digunakan untuk menggerakkan motor listrik. Tidak ada proses pembakaran. Tidak ada CO₂. Tidak ada NOx.

Dari sisi pengguna, hasil akhirnya mirip mobil listrik biasa. Perbedaannya terasa pada waktu pengisian dan jangkauan.


Jarak Tempuh dan Pengisian: Inilah Senjata Utama Nexo

Hyundai Nexo mampu menempuh jarak lebih dari 600 km dalam satu kali pengisian hidrogen, dengan waktu pengisian sekitar 5 menit.

Bandingkan ini dengan BEV:

  • Jarak tempuh realistis 400–500 km

  • Waktu pengisian cepat tetap 20–40 menit

Di sinilah FCEV unggul secara fungsional, terutama untuk:

  • Armada operasional

  • Kendaraan jarak jauh

  • Pengguna yang tidak bisa menunggu lama

Namun, keunggulan ini hanya relevan jika infrastrukturnya tersedia.


Segmen Pasar Hyundai Nexo: Bukan Mass Market

Hyundai Nexo tidak dirancang untuk bersaing dengan SUV listrik populer di showroom. Ia mengisi segmen yang jauh lebih spesifik:

1. Fleet dan Pemerintah

Negara-negara dengan agenda dekarbonisasi serius melihat FCEV sebagai solusi jangka panjang untuk:

  • Kendaraan dinas

  • Armada kota

  • Transportasi publik tertentu

2. Pasar dengan Infrastruktur Hidrogen

Seperti Korea Selatan, Jepang, sebagian Eropa, dan California.

3. Technology Leadership Vehicle

Nexo adalah halo product—bukan untuk volume, tetapi untuk reputasi dan positioning teknologi.

Jika suatu hari masuk Indonesia, Nexo kemungkinan besar:

  • Datang terbatas

  • Digunakan sebagai pilot project

  • Bukan produk retail umum


Peta Kompetitor: Siapa Lawan Hyundai Nexo?

Kompetitor Langsung (FCEV)

  • Toyota Mirai
    Sedan FCEV dengan pendekatan konservatif dan fokus teknologi.

  • Honda Clarity Fuel Cell
    Kini sudah dihentikan, menandakan betapa sulitnya segmen ini.

Di kelas SUV FCEV, praktis Hyundai Nexo bermain sendirian.

Kompetitor Tidak Langsung (BEV Premium SUV)

  • Tesla Model Y

  • BMW iX

  • Hyundai Ioniq 5

Namun ini perbandingan filosofi, bukan produk sejenis. BEV fokus pada baterai dan charging. Nexo fokus pada energi hidrogen dan ekosistem masa depan.


Kelebihan Hyundai Nexo yang Sering Terlewat

1. Zero Emission yang Konsisten

Jika hidrogen diproduksi dari energi terbarukan, maka seluruh siklusnya hampir nol emisi.

2. Skalabilitas untuk Kendaraan Besar

Teknologi fuel cell lebih mudah diskalakan untuk:

  • Truk

  • Bus

  • Alat berat

3. Pengisian Cepat Tanpa Degradasi Baterai

Tidak ada battery aging seperti BEV.

4. Strategi Jangka Panjang

Hyundai tidak hanya menjual mobil, tetapi membangun ekosistem energi hidrogen—termasuk industri, logistik, dan power generation.


Realitas Indonesia: Kenapa Belum, Tapi Bukan Tidak Mungkin

Indonesia saat ini masih fokus pada BEV. Infrastruktur hidrogen nyaris nol. Namun:

  • Indonesia kaya energi terbarukan

  • Potensi green hydrogen sangat besar

  • Industri berat dan logistik akan membutuhkannya

Dalam konteks ini, Hyundai Nexo bukan produk hari ini. Ia adalah preview masa depan.


Penutup: Hyundai Nexo dan Pertanyaan yang Lebih Besar

Hyundai Nexo mengajukan satu pertanyaan penting:

Apakah masa depan mobilitas hanya soal baterai, atau soal keberanian memilih banyak jalur sekaligus?

Hyundai memilih jalur kedua. Dan Nexo adalah bukti nyata bahwa inovasi sejati sering kali tidak populer di awal.

Sebagai reviewer, saya melihat Hyundai Nexo bukan sebagai mobil yang ingin Anda beli, tetapi sebagai mobil yang ingin Anda mengerti. Karena dari sanalah kita bisa memahami ke mana industri ini bergerak—pelan, mahal, kompleks, tapi dengan visi yang jauh ke depan.

Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika hidrogen sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, kita akan melihat ke belakang dan berkata:
Hyundai sudah sampai ke sana lebih dulu.

Topik Terkait